Sajak Mawar

Aku masih ingat hari ketika aku menanam bunga mawar di halaman depan
Kuncupnya baru tumbuh sedikit
Semoga esok ia akan segera mekar
Dan melihat senyuman dari wajah-wajah hambar
Engkau tidak bicara apa-apa waktu itu

Benar, tak sampai tiga hari mawar itu sudah mekar sempurna
Harumnya semerbak di mana-mana
Ia menjadi primadona di antara bunga-bunga lainnya
Manusia yang lewat pun terpesona

Engkau kemudian meminta padaku untuk memetiknya satu tangkai
Kau bilang ini untuk diberikan pada kekasihmu
Dengan ragu aku memetikannya satu untukmu

Hari berikutnya engkau datang dengan wajah merona
Engkau meminta satu tangkai lagi untuk dibawa ke makam ibumu
Lalu aku memberikannya satu untukmu

Kini tinggal satu mawar yang menjelang pudar warnanya
Ia tak lagi jadi primadona
Kelopaknya mengkerut keriput

Ah iya, aku masih ingat saat jariku tertusuk durinya
Rasanya sakit
Tapi aku tetap bisa tersenyum memandang bunga mekarnya
Tuntas sudah aku mengenang hari-hari mekarnya
Hari ini mawar itu pun mengabarkan kematian yang akan segera menjelang



Yogyakarta, 12 Februari 2012
Sasikirana Megantara


Share this post :

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. e-magz FLP13 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger